Forum Kebangsaan UI Gelar Dialog Publik


Pantau Terkini | Depok | Forum Kebangsaan Universitas Indonesia (UI) menggelar diskusi dialog publik di Balai Sidang UI, Kampus Depok, Senin (24/06/2016)

Kegiatan bertemakan “NKRI sebagai basis Kesatuan Ekonomi dalam Menghadapi Ketidakpastian Global” dihadiri Wakil Presiden Indonesia ke-6 Try Sutrisno, Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI sekaligus Koordinator Forum Kebangsaan UI Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D

Bertindak sebagai narasumber diantaranya Prof. Hikmahanto Juwana (pakar Hukum Internasional) ; Prof. Hamdi Muluk (pakar Psikologi Politik) ; Dr.Febrio Kacaribu (pakar Makro Ekonomi)

Prof. Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hukum Internasional UI) dalam kesempatan tersebut mengatakan, saat ini konflik yang terjadi adalah perebutan pasar dan tempat berproduksi dari berbagai negara. Tujuannya untuk memastikan dan menjamin kemakmuran di negara mereka. Berbagai elemen kekuatan negara besar yang memiliki banyak pelaku usaha tangguh dan tempat berproduksi, seperti Amerika Serikat, China, Jepang dan Korea Selatan." Termasuk negara di Eropa, mengambil langkah integrasi."  Integrasi ini yang menghasilkan Uni Eropa, dimana bukannya tidak mungkin Uni Eropa akan berevolusi menjadi The United States of Europe," kata Hikmahanto.

Menghadapai fenomena geopolitik seperti ini, lanjutnya, tidak ada kata lain, selain harus menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara. Secara geopolitik, Indonesia tidak boleh pecah."Tantangan yang muncul dari perebutan pasar dan tempat berproduksi harus disikapi dengan menjaga dan merawat NKRI," tegasnya.

Sementara itu,

Prof. Hamdi Muluk yang juga Guru Besar Psikologi Politik UI mengatakan, persaingan Global di era digital atau di era revolusi industri 4.0 menghasilkan kesimpulan bahwa bangsa yang bisa survive hanyalah bangsa yang solid secara internal, dan mampu beradaptasi secara cepat terhadap perkembangan dunia global saat ini.

Menurutnya, memetakan soliditas internal Indonesia diseluruh matra kebangsaan adalah suatu keniscayaan: memetakan kekuatan, kelemahan, tantangan, peluang dan kesempatan. Lebih khusus lagi, titik fokus adalah pada pemetaan pola pikir dan pola sikap manusia Indonesia (SDM) untuk sanggup bersaing di era revolusi industri 4.0.

Karena itu, lanjut Hamdi Muluk, untuk maju tentu saja diperlukan modal ekonomi,  institusional, sosial,  budaya, dan modal psikologis. Namun tanpa mengesampingkan modal ekonomi, institusi, maka tampaknya tindakan terencana untuk memperkuat basis modal sosial, modal budaya, dan modal psikologis dalam sebuah disain yang komprehensif semacam “Neo-Revolusi mental” adalah proyek strategis Indonesia paling tidak untuk 20 – 30 tahun ke depan.

"Mengubah secara terencana pola pikir, sikap-sikap mental dan perilaku SDM adalah sesuatu yang tidak dapat lagi dielakkan. Perlu desain komprehensif untuk menjadikan Manusia Indonesia yang mempunyai etos Integritas, kerja keras dan semangat Nasionalisme untuk menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0," tandasnya.(SK)


Post a Comment

0 Comments