Breaking News

recent

Persatuan Tenis Meja Kedai Kopi Dari Hobby Jadi Prestasi



Jakarta | Pantau Terkini | Apresiasi layak diberikan terhadap Persatuan Tenis Meja (PTM) Kedai Kopi Liana. Tekad dan semangat menjadikan olah raga tenis meja atau yang populer disebut ping pong, dari sekedar hobi berbuah prestasi.

Semangat itu terlihat dengan mengadakan Turnamen Tenis Meja se-Jabodetabek Kedai Kopi Cup yang berlangsung 7 - 10 Februari 2019 di Kedai Kopi Liana Jl. Budi Mulia Pademangan Jakarta Utara.

“Turnamen Tenis Meja Kedai Kopi Cup ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur atas terbentuknya PTM Kedai Kopi Liana, mencari pemain-pemain tenis meja berprestasi dan memperkenalkan olah raga tenis meja ke semua kalangan,” ujar Ketua PTM Kedai Kopi Liana, Victor saat acara final Turnamen Kedai Kopi Cup, Minggu (10/2/2019).

Victor menjelaskan, sebanyak 116 orang peserta mengikuti turnamen yang terbagi dalam divisi 4, 5, 6 dan 7.

“Luar biasa, para peserta sangat antusias mengikuti Turnamen Kedai Kopi Cup yang final diadakan pada hari Minggu 10 Februari 2019, dengan hadiah bagi juara I memperoleh Rp 4 juta, juara II Rp 2 juta, juara III Rp 1,5 juta plus trophy dan juara bersama 8 besar mendapatkan Rp 250 ribu,” kata pria asal Tebas Sambas Kalimantan Barat itu.

Bendahara Umum Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Jakarta Utara, Rudy mengapresiasi terbentuknya PTM Kedai Kopi dan turnamen Kedai Kopi Cup 2019 sebagai salah satu ajang pencarian bakat pemain tenis mja.

"Selamat dan sukses atas terbentuknya PTM Kedai Kopi, salut meski baru terbentuk sudah mengadakan turnamen,” ucap Rudy mengapresiasi.

Menurut Rudy, tenis meja atau ping pong merupakan olah raga yang sudah sejak lama dikenal masyarakat Indonesia. Selain baik untuk kesehatan, juga dapat mengharumkan nama bangsa melalui prestasi seperti badminton.

“Indonesia pernah punya pemain hebat di tahun 1970-an yaitu Sugeng Utomo, yang pernah masuk peringkat 16 besar dunia, begitu juga di kelompok putri ada Beatrix Pieters. Pada tahun 1980-an, ada Anton Suseno, petenis meja yang sukses bermain di liga tenis meja Swedia sebagai atlet professional,” jelasnya.
   
Kemudian, tambah Rudy, pada tahuan 1990-an petenis meja Indonesia pernah menyapu bersih tujuh medali emas SEA Games melalui Rossy Pratiwi Dipoyanti dan kawan-kawan.

 "Dominasi itu baru terhenti setelah Singapura mulai melakukan naturalisasi petenis meja asal Tiongkok sebagai warga negaranya ditambah negara Asean lainnya terus meningkat kemampuan petenis mejanya,” ungkapnya.

“Semoga melalui turnamen-turnamen yang sering diadakan secara berkala, Indonesia mampu melahirkan kembali para pemain tenis meja hebat, semoga pemain itu ada di PTM Kedai Kopi,” harapnya penuh semangat (Vic)

No comments