Duit Pisew diduga di Korupsi

Poto Encep Hambali (Ketua BKAD) 

Sukabumi Pantau Terkini.co.id  Kecamatan Cikakak Kabupaten Sukabumi Jawa Barat,  tahun 2019 mendapat kucuran dana Pisew (Program Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah)  Senilai 600 juta rupiah, dana tersebut dialokasikan oleh  Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) untuk pembangunan  drainase dan pengaspalan jalan hotmix, di tiga desa (Desa Cileungsing, Cirendang dan Gandasoli)

BKAD tersebut  diketuai oleh Sdr Encep Hambali dari Desa Gandasoli, sekertaris Ustad Yudin (Desa Cireundang)  Bendahara Betty Yuliawati dari Desa Cileungsing, berdasarkan Surat Keputusan Camat Cikakak yang pada saat itu di jabat oleh Ibu Yanti (sekarang Camat Gegerbitung).

Berdasarkan keterangan yang dihimpun Pantau Terkini.co.id dana tersebut diduga dikorupsi, pasalnya proyek yang dikerjakan belum genap 1 tahun sudah rusak lagi, khususnya pembangunan drainase (saluran pembuangan air) nyaris dikerjakan asal-asalan,
“Pasangan batu sudah pada copot, tembok penutup sudah pada hancur, tinggi drainase direncanakan 60 cm, dikerjakan hanya rata-rata 45 cm, 

Menurut perkiraan kami pembangunan drainase tersebut paling menghabiskan biaya senilai 75 juta rupiah, sementara BKAD menganggarkan senilai 150 juta rupiah,” demikian disampaikan warga desa Cirendang yang tidak mau disebut namanya seraya menambahkan , “Pada saat Proyek ini dianggap selesai, datang tim monitoring Bapak Topo (Kasi Sarpras Kecamatan Cikakak), dia merasa kecewa karena pekerjaan drainase di Desa Cirendang ini  tidak sesuai rencana,”Imbuhnya
Encep Hambali Ketua BKAD menjelaskan, “Kami mengerjakan proyek Pisew ini dengan penuh rasa tanggung jawab, di desa Cileungsing kami menganggarkan 180 juta rupiah untuk pembangunan drainase,
Di desa ini saya sampai berkelahi hanya gara-gara  para pekerja mengerjakan pekerjaannya tidak sesuai dengan rencana, saya bialang terhap mereka kalau kalian bekerja tidak baik, lebih baik kalian tidak usah bekerja, kalo kerjaan kalian seperti ini berarti kalian akan memenjarakan saya, sebab nanti saya yang dimintai pertangung  jawabannya.”Tegasnya

“Pembangunan drainase tersebut  diduga kekurangan volume pekerjaan, seharusnya pasang batu pakai pasir beton (cor) untuk merekatkan batu, ini diduga menggunakan pasir pasang, sehingga pasangan batu tersebut akan cepat copot dan tidak dapat bertahan lebih lama,”Demikian disampaikan Jasa Konsultan Kabupaten Sukabumi yang tidak mau disebut namanya. (red*)

Post a Comment

0 Comments