"MELALUI PENDEKATAN DISIPLIN BUDAYA LOKAL DAN ADAT ISTI-ADAT SECARA PERSUASIF JUGA BISA MENGIKAT TALI KEKELUARGAAN SERTA MAMPU MENYELESAIKAN SENGKETA PERANG"


PAPUA | PANTAUTERKINI | Tanggal, 02 Oktober 2018 jam 08:30.09 Waktu Kampung Mulima telah bergejolak perang Klan atau Suku antara Distrik Libarek dengan Distrik Yalengga tepat di lokasi Kampung Mulima yang menewaskan satu orang (Kepala Kampung) serta empat orang luka parah.

Termasuk banyak harta kekayaan juga rumah musnah terbakar hangus kobaran api ulah ketusnya amarah perorangan tetapi juga kelompok daripada Distrik tersebut.

Berlalu sudah dua minggu dua hari lamanya berbagai fihak mencari solusi alternatif untuk mencari titik tengah demi perdamaian sejati.

Berbagai tawaran pun Sili berganti diupayakan, baik itu dari dalam internal ke-dua kubu oleh Kepala Suku masing-masing tetapi juga keterlibatan fihak keamanan termasuk fihak pemerintahan Distrik bahkan pemerintahan Kampung, akhirnya ditemukan pula titik tengah.

Sebagai solusi alternatif mencapai titik tengah perdamaian sejati, dari ke-dua kubu berkumpul di halaman terminal Tolikara-Lani Jaya samping Kantor Cabang Bank BRI depan Mall Wamena untuk menceraikan atau mengakhiri perang tersebut.

Tepat ini hari Kamis tanggal, 18 Oktober 2018 telah berkumpul ke-dua kubu dengan satu tujuan, satu maksud, dan satu bahasa untuk menyelesaikan sengketa perang tentu secara budaya di bawa pengawasan fihak keamanan.

Pembayaran secara budaya atas terbunuh dan meninggalnya beberapa orang dari antara ke-dua Distrik tersebut akhirnya ini hari siap diselesaikan.

Masing-masing dari ke-dua kubu sejak pagi tadi datang ke tempat tersebut dan saling menunggu fihak keamanan juga fihak pemerintah serta fihak penegak hukum termasuk menunggu tokoh-tokoh yang dianggap layak mampu menyelesaikan.

Meski pun di Medan perang lalu menjadi musuh dalam waktu dua minggu dua hari, namun hari ini justru terlihat ada kerinduan terlahir dari hati yaitu persahabatan, kekeluargaan, dan kesukuan dalam kasih kemuliaan Tuhan.

Mari kita menyosialisasikan minimnya orang asli Papua sehingga tidak boleh atau tidaklah harus setiap masalah diselesaikan dengan pendahuluan perang yang akhirnya korban nyawa.

Demikian tulisan lanjutan ini saya muat sebagai wujud kepedulian melindungi orang asli Papua dari kepunahan. Semoga kita semua perduli akan kemanusiaan yang hakiki.

By: Daud Himan

Post a Comment

Post a Comment