Home » , , , 28 June 2018

KESADARAN KESELAMATAN TRANSPORTASI DAN PELAYARAN

Posted by Panter Redaksi



BALIKPAPAN |PANTAUTERKINI |
Kembali dunia transportasi kita berduka dan dikejutkan oleh kabar berita sedih pada senin(18/6) tenggelamnya kapal penyeberangan KM Sinar Bangun rute Simanindo – Tigaras di Danau Toba,hingga saat ini jumlah korban belum dapat dipastikan dikarenakan tidak adanya manifes atau catatan jumlah penumpang,perkiraan jumlah korban hanya berdasar laporan orang hilang adalah 200 orang penumpang. Sudah sepatutnya kita turut bersimpati kepada para korban dan keluarganya, semoga seluruh keluarga korban sabar dan tabah menghadapi kejadian ini.

Hanya berselang beberapa hari sejak terjadinya kasus tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun, kembali terjadi kecelakaan tenggelamnya KM Ramos Risma Marisi yang tenggelam juga di perairan Danau Toba, padaJumat (22/6) malam.

Ditengah tengah usaha pemerintah sedang giat giatnya melakukan pembenahan dan eksplorasi pada dunia pariwisata kita dan salah satunya adalah Danau Toba menjadi tujuan utama pariwisata dalam negeri,kejadian kejadian kecelakaan ditempat wisata yang merengguk banyak korban jiwa secara tidak langsung akan mengganggu program kerja pemerintah dibidang pariwisata, sebab faktor keselamatan,keamanan dan kenyamanan adalah yang utama dalam dunia Pariwisata kita.

Dalam kejadian kejadian kecelakaan pada pelayaran kita selama ini hasil penyelidikan dan penelitian baik itu yang dilakukan pihak kepolisian maupun otoritas ahli pelayaran sering menyebutkan penyebab terbanyak kecelakaan pelayaran dan jatuhnya banyak korban adalah kelebihan penumpang atau muatan (over kapasitas) dan juga laporan selalu melaporkan kurangnya atau tidak berfungsinya peralatan keselamatan saat perjalanan pelayaran,Life jacket/pelampung tidak tersedia juga alat alat pemadam api yang tidak ada didalam pelayaran. Menjadikan pengawasan adalah masalah utama bukanlah berlebihan, Nah melihat masalah ini kita bisa menyimpulkan bahwa kurangnya pengawasan oleh otoritas pelabuhan atau syahbandar telah menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan pada pelayaran kita, tidak dapat dipungkiri transportasi pelayaran adalah salah satu kebutuhan masyarakat kita dalam melakukan perpindahan atau mobilitas orang dan barang,oleh karena itu sudah semestinya otoritas pelayaran menggunakan orang orang yang benar benar profesional,cakap dan kompeten dalam mengurusi dunia pelayaran dan ahli dalam keselamatan pelayaran.

Sebenarnya kita telah memiliki undang undang yang mengatur seluruh kegiatan pelayaran yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang memiliki tujuan memperlancar arus perpindahan barang maupun penumpang melalui perairan dengan fungsi untuk mengawasi dan melindungi kegiatan angkutan di perairan gunadapat memperlancar kegiatan perekonomian dan juga untuk kesejahteraan masyarakat. Menurut UU No. 17/2008,otoritas pelabuhan dan syahbandar mengemban fungsi pengawasan dan perlindungan tersebut. Sayangnya dalam setiap kejadian kecelakaan penyebab utamanya seperti sulit diungkap,hal ini membuat kita seolah olah tidak pernah bisa belajar pada kasus kasus yang telah terjadi dan yang bisa dilakukan harusnya adalah membuat dan melaksanakan Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) dan Emergency Responce Plan (ERP) yang kompherensip guna pencegahan kecelakaan dapat dilakukan secara maksimal dan terencana.

Undang Undang nomor 17 tahun 2008 pada Bab XI, pasal 207 point 1, 2 dan 3 menjelaskan secara jelas fungsi dan tanggung jawab seorang Syahbandar (tidak menjelaskan kualifikasi personal) yang berbunyi sebagai berikut :

1) Syahbandar melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran yang mencakup pelaksanaan, pengawasan dan penegakan hukum di bidang angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan perlindungan lingkungan maritim di pelabuhan

2) Selain melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Syahbandar membantu melaksanakan pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) di pelabuhan sesuai dengan ketenmtuan perundang undangan

3) Syahbandar diangkat oleh menteri setelah memenuhi persyaratan kompetensi dibidang keselamatan dan keamanan pelayaran serta kesyahbandaran

Kedepannya keberadaan badan Komite Nasional Keselamtan Transportasi (KNKT) juga jangan lagi hanya turun kelapangan ketika terjadinya kecelakaan,hal ini seperti petugas pemadam kebakaran saja yang hadir ketika adanya kebakaran,tetapi KNKT harus didorong untuk turun ke lapangan untuk memastikan apakah otoritas otoritas berwenang dalam dunia transportasi kita sudah berfungsi dan memastikan berjalannya system dan perencanaan keselamatan dalam setiap moda transportasi kita dengan baik, baik itu dilaut,darat,kereta api maupun tranportasi pelayaran.KNKT seharusnya bisa menjadi semacam fungsi auditor dibidang keselamatan  tranportasi agar menumbuhkan efektifitas pencegahan kecelakaan.

Untuk kedepannya masyarakat pengguna transportasi,pengusaha dan operator transportasi khusus pelayaran juga harus bersama sama menumbuh kembangkan budaya sadar berkeselamatan transportasi,dan semoga kejadian kejadian seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya.

 *Fretty Butarbutar*
(pemerhati masalah sosial,praktisi keselamatan kerja)

Related Posts

Copyright © 2012, Kantor Berita Online Nasional Allrights Reserved - Magazine World Theme - Designed by Uong Jowo