Select Menu

Slider

Daerah

Hukum

Legislatif

Derap

TNI Mandiri Manunggal Desa

Peristiwa

Videos

» » » » Penggusuran Oleh Personil Gabungan dan PT KAI Berakhir Ricuh Yang Penuh Kisah Luka.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

PANTER – MEDAN, Penggusuran puluhan rumah di pinggir rel kereta api Jalan Timah, Medan Area, Rabu (26/10) pagi, berujung ricuh. Pasalnya, belasan perempuan melempar personel gabungan dengan tanah saat menuju permukiman warga.

Petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional I Wilayah Sumatera Utara-Nangroe Aceh Darussalam (Divre I Sumut-NAD) dibantu petugas Polrestabes Medan dan TNI melakukan penggusuran rumah di bantaran rel terkait proyek double track kereta api jalur Medan-Kualanamu.

Belasan polisi pun menarik beberapa perempuan, yang diduga melakukan pelemparan dan dibawa ke Polsek Medan Area. Satu di antaranya Atika Bangun, anak ketiga Yeyen, janda tujuh anak.

Melihat, Atika ditarik beberapa Polwan, Yeyen langsung histeris. Beberapa anaknya yang lain langsung mendekat. lalu Yeyen bersama empat anaknya berupaya mendorong polwan. Aksi saling dorong pun tidak terhindarkan antar masyarakat dengan Polwan yang melakukan penangkapan.
.
"Tolong-tolong Pak Polisi jangan tangkap anakku. Jangan bawa kami. Kami sekadar mempertahankan rumah," teriaknya, sembari terdengar perintah agar polwan membawa mereka ke Polsek.

"Bukan tanah kalian ini, ngapain melempar kami. Tangkap saja, perempuan berkacamata itu provokatornya (Atika Bangun)," ujar beberapa polisi.

Tak lama kemudian, belasan personel Sabhara dan polwan mengepung Yeyen sekeluarga. Petugas kemudian mengarahkan mereka menjauh dari bantaran rel kereta. Saat menjauh dari bantaran rel, Yeyen terjatuh.

Perempuan, yang sudah empat tahun menjanda itu, terperosok ke tumpukan besi proyek double track kereta api tersebut lalu tergelatak tak sadarkan diri, Meskipun Yeyen tergeletak tak sadarkan diri, beberapa polwan dan petugas PT KAI masih berupaya menarik Atika.

"Kalian hanya berani sama masyarakat kecil. Jangan bawa kami, mohon biarkan kami bersama," teriak Atika sembari meneteskan air mata.

Melihat keadaan Yeyen yang sudah tergeletak, beberapa warga berteriak. Warga berupaya menolong Yeyen dengan cara membongkar tumpukan besi. Kasat Sabhara Polrestabes Medan Kompol Siswandi juga langsung menginstruksikan kepada personel Sabhara untuk membongkar tumpukan besi.

"Bongkar besinya, ayo bongkar, tim kesehatan panggil. Cepat panggil tim medis ke sini," ujarnya.

Setelah berhasil membongkar tumpukan besi, petugas langsung mengangkat Yeyen ke kawasan depan Yanglim Plaza. Suara tangispun bergema di lokasi. Usai mendapatkan perawatan medis, Yeyen menceritakan, sejak berusia 10 tahun sudah tinggal di pinggir rel kereta api.

"Saya sudah puluhan tahun menetap di sini. Hampir 50 tahun. Orangtua saya dulu pindah dari Jalan Wahidin ke sini," katanya.

“Puluhan tahun lalu, kawasan pinggir rel, belum ramai. Kami, garap sendiri tapi ada izin PT KAI. Jadi bayar tahunan. Tapi lama-lama uang sewa per meter sudah Rp 300 ribu. Kami juga bayar PBB," ujarnya menjelaskan, setelah menikah, tetap membangun rumah di atas tanah PT KAI. Namun, tetap mengajukan permohonan sewa. Karena itu, dia berat keluar dari Jalan Timah, Medan.

"Saya menikah dan berkeluarga di sini. Terakhir kami bayar sewa pada 2005. Harga sewa tanah pada 2005 berkidar Rp 300-an. Tapi, sejak 2005 hingga penggusuran, PT KAI tidak menerima uang sewa," katanya.

Ia merasa sedih, melihat rumahnya hancur. Karena itu, ia berencana tidur di musala bersama tujuh anaknya.

"Tinggal di musala dulu, dek. Suami saya sudah empat tahun meninggal. Apalagi anak-anak masih kecil, kami tidak punya rumah juga," ujarnya. Ia mengungkapkan, ketujuh anaknya perempuan semua. Saban hari, anak-anaknya membantunya jualan minuman dan makanan ringan.

"Kalau setiap pagi, pukul 08.00 WIB, saya jadi kuli angkut. Saya bantu orang-orang yang berjualan di pajak. Adapun ketujuh anaknya adalah Erlina Bangun, Mariam Bangun, Atika Reformasi Bangun, Mega Bangun, Weni Bangun, Aura Safrina Bangun, dan Putri Seven Bangun," katanya.

Empat dari tujuh anaknya sedang sekolah. Karena itu, ia kecewa terhadap pemerintah, lantaran uang tali asih hanya Rp 1,5 juta.

"Yang sekolah SMA, Mega Bangun. Kalau Weni Bangun masih SMP dan Saura Safrina Bangun, sekarang ini masih kelas empat SD. Kemudian, Putri Seven Bangun masih TK," ungkapnya.

Sedangkan Humas PT KAI Divre 1 Sumut Joni Martinus menjelaskan sedikitnya 21 rumah yang harus ditertibkan karena pembangunan double track kereta api. "Yang ditertibkan 21 rumah. Tahun lalu 60 rumah yang ditertibkan di sana. Namun, sebagian besar warga sudah digusur, kembali membuat bangunan, empat meter dari batas yang ditentukan," katanya.

“PT KAI sudah menyediakan uang tali asih untuk warga Rp 1,5 juta. Ada warga yang sudah ambil uang tali asih. Tapi, banyak pula yang belum ambil. Mereka tinggal di atas tanah negara dan sekarang tanah itu diperlukan untuk pembangunan elevated," ujarnya. (Aasof)

About Kareem

KAMI Pewarta Pantau Terkini Menolak Berita Hoaks Tanpa data yang aKurat dan Opini yang tidak Membangun .
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments