Select Menu

Translate

Utama

Daerah



Peristiwa

Adverntorial

DERAP




Pariwisata

Nasional

Liputan Langsung

» » » » » » » » Masyarakat Tuding PT KAI Tidak Punya Perasaaan
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

PANTER – MEDAN, Penertiban rumah yang berada di pinggiran rel, Jalan Timah, Kecamatan Medan Area, untuk melangsungkan pembangunan jalur ganda KA Raillink Medan-Kualanamu, diwarnai isak tangis. Masyarakat menuding, PT KAI tak memiliki rasa kemanusiaan.

Puluhan rumah yang berdiri di sepanjang rel KA tersebut, diratakan oleh PT KAI dengan mengerahkan 1 unit alat berat. Selain itu, PT KAI juga menggandeng TNI, Polri, Satpol PP hingga Polsus KA dalam melakukan penertiban tersebut.

Tim sudah berkumpul sejak pukul 10.00 WIB. Masyarakat yang merasa tak terima dengan sikap PT KAI, menangis sembari berteriak agar penertiban tak dilakukan. Selain itu, masyarakat yang merasa diintimidasi oleh PT KAI pun melakukan perlawanan dengan melempar lumpur tanah kepada tim yang melakukan penertiban.

Tepat pukul 11.00 WIB, penolakan keras dilakukan oleh massa dengan melempar lumpur itu kepada tim yang melakukan penertiban. Bahkan, Kapolsekta Medan Area, Kompol Arifin juga dilawan massa.

"Tolong kami pak. Ganti bangunan kami, biar bisa pindah. Kami belum punya rumah kontrak. Musala satu-satunya tempat kami tidur," ujar Ida Piliang (46), warga yang digusur sambil menangis, Rabu (26/10).

Ida mengaku, ia bayar pajak setiap tahunnya. Untuk ukuran rumahnya 6x6, ia bayar pajak Rp 200 ribu. Uangnya ia setor ke PT KAI. Ida mengaku bayar PBB itu bukan ke PT KAI langsung. Melainkan, ada orang suruhan dari PT KAI berinisial S yang mengutip PBB tersebut. Tapi belakangan, PBB yang mengalir ke PT KAI itu tak disetorkan kepada PT KAI lagi sejak tahun 2005.

Ida juga mengaku, sudah menetap di pinggiran rel sejak tahun 1970-an. Meski PT KAI ada memberikan ganti rugi berupa uang tunai Rp1,5 juta, namun dia tak mengambil uang tersebut karena harganya tidak manusiawi.

"Menggusur 60 KK ini mengalahkan teroris saja banyak pakai ratusan petugas, mobil watercanon juga. Woi PT KAI, di mana hati nurani mu kepada kami yang disini mayoritas mamak-mamak," teriaknya lagi bersama warga lainnya.


Ida sangat sedih dengan sikap Pemko Medan, khususnya Wali Kota Medan yang tidak peduli dan memberikan perhatian kepada warga pinggiran rel yang digusur. "Dari awal (penertiban), tak ada orang Pemko melhat nasib kami. Jangankan wali kota, perwakilannya pun tak Nampak batang hidungnya,” kata Ida sambil menyeka air matanya. (M.Ir)

About Kareem

Kami Pewarta Pantau Terkini Mendukung Tolak Berita Hoaks dan menjunjung tinggi Nilai Jurnalistik "Biographical Info" dan semua Berita Tanggung Jawab Perwakilan Daerah sebagai Admin dari Website Pantau Terkini.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments