Select Menu

Translate

Utama


Daerah



Peristiwa

Adverntorial

DERAP



Pariwisata

Nasional



Liputan Langsung

» » » Isu Kenaikan Harga Rokok Hanya Motif Perang Dagang !
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Panter | Jakarta, Penetapan mengenai harga rokok ini harus dikaji dan juga dipertimbangkan dengan sangat matang. Hal ini bertujuan agar industri tembakau nasional tidak terus terpojokkan karena berbagai isu yang telah menyebar. Menurut pengamat hukum yakni Gabriel Mahal desakan untuk menaikkan harga rokok ini menjadi lebih mahal semata-mata karena motif agenda perang dagang dengan idustri farmasi global. 

Gabriel mengatakan bahwa membandingkan harga rokok Indonesia dengan Singapura itu sangat salah kaprah karena Singapura sama sekali tidak memiliki kepentingan terkait dengan tembakau. Terlebih lagi Singapura juga tidak memiliki petani tembakau.

Di Singapura sendiri kini sudah memiliki fasilitas untuk perorkok walaupun mereka sama sekali tidak ada kepentingan terhadap tembakau. Kemudian di negara Jepang juga memberikan lokasi merokok di kereta api. Selain itu di stasiun juga terdapat gerbong yang dikhususkan untuk para perokok.

Gabriel mengatakan bahwa orang boleh merokok dan disediakan tempat khusus untuk merokok hingga koreknya. Sementara itu di Indonesia industri hasil tembakau terus dipojokkan. Hal ini dikatakan akan menambah beban impor negara. 

 Padahal pengahsilan APBD itu salah satunya bersumber dari pajak. Selain itu Gabriel menilai bahwa niat pemerintah untuk mengkampanyekan dampa negatif dari tembakau ini sebagai salah satu dari bagian strategi untuk menjaring konsumen nikotin replacement dalam jangka panjang.

Di sisi lain kelompok yang anti tembakau terus mendesak agar harga rokok naik hingga Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Diduga hal ini bertujuan agar harga rokok mendekati produk nicotine replacement therapy (NRT) yang saat ini sudah beredar di pasar kurang lebih seharga Rp 58.000. dengan begitu harga NRT ini akan lebih kompetitif dengan harga rokok yang lainnya,

 Harga Rokok Naik, Rugikan Tenaga Kerja ?

Kenaikan harga rokok tanpa adanya perhitungan dan juga mekanisme yang jelas ini akan merugikan industri dan juga para tenaga kerja. Sudarto yang merupakan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM) mengatakan bahwa apabila pertimabngan tersebut tidak didasari dengan riset dan juga pertimbangan yang jelas, hal ini akan memperburuk industri dan juga para tenaga kerja. Menurut Sudarto, kenaikan tarif cukai sebesar 11,7 persen saja sudah berdampak pada pengurangan tenaga kerja sebanyak 32.279 orang pada kurun waktu tahun 2012 hingga 2015. Tentu saja kenaikan cukai akan berkali-kali lipat besarnya apabila harga rokok akan dinaikkan hingga Rp 50 ribu harga per bungkus rokok.

Para tenaga kerja tersebut adalah mereka yang datang dari industri kretek yang merupakan industri padat karya. Terlebih lagi dari mereka mempunyai jenjang pendidikan yang terbilang rendah. Sehingga apabila memang nanti mereka akan terkena PHK, maka mereka tidak mampu bersaing dan bekerja di industri yang lainnya. Hal ini juga sangat berbahaya.

Diketahui bahwa riset tentang kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) telah dilakukan. Hasil dari Riset tersebut telah memicu rasa khawatir dari industri, tenaga kerja, dan juga para petani tentunya.

Sduarto meminta agar riset yang dilakukan itu mencari solusi yang bijak, bukan malah memojokkan suatu pihak. Di dalam riset juga harus dicari jalan keluarnya. Apabila berdasarkan riset tersebut akan banyak tenaga kerja yang terkena PHK, maka siapa yang akan bertanggungjawab? Selain itu, kenaikan harga rokok hingga Rp 50.000 ini akan mengakibatkan semakin banyaknya rokok ilegal yang akan beredar. Sudarto menyebtukan bahwa pada saat ini jumlah rokok ilegal berada di angka lebih dari 11 persen.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) I Ketut Budiman mengatakan bahwa riset yang dilakukan oleh orang yang kontra dengan rokok maka akan menimbulkan ketidak adilan.

HARGA ROKOK DI INDONESIA SUDAH LEBIH MAHAL SEBENARNYA DIBANDINGKAN NEGARA LAIN ! 

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan yakni Heru Pembudi mengatakan bahwa harga rokok yang diperdagangkan di Indonesia kini justru terbilang mahal apabila diperbandingkan dengan negara yang lain termasuk negara maju. Nilai ini telah dibandingkan melalui rasio antara harga dengan produk domestik bruto (PDB per kapita.

Heru mengatakan bahwa secara nominal harga jual rokok di Indonesia memang masih terbilang rendah apabila dibandingkan dengan negara seperti Singapura ataupun Jepang. Namun apabila harga ini dibandingkan dengan daya beli masyarakat Indonesia, maka harga rokok justru masih lebih mahal. 

Heru mengatakan Jika dibandingkan dengan relatif terhadap PDB Indonesia per kapita per hari, maka sebenarnya harga jual satu batang rokok di Indonesia itu sudah termasuk tinggi. Karena harga pasti harus relatif dibandingkan dengan kemampuan daya beli masyarakat dan itu merupakan kemampuan dari PDB kita.

Menurut Heru, apabila dilihat dari statistik, tingkat konsumsi rokok terhadap PDB per kapita di Indonesia kini sudah berada di angka 0,8 persen. Sementara itu apabila dilihat dari negara lain seperti Jepang, angka ini justru lebih rendah yakni sebesar 0,2 persen. Hal ini berarti harga rokok di Indonesia sudah termasuk mahal dengan daya beli masyarakat yang rendah.

Heru mengatakan bahwa apabila dibandingkan dengan negara-negara maju, nominalnya harga rokok Indonesia memang lebih murah. Namun yang perlu diingat adalah semua itu dikendallikan juga dari daya belinya juga.

Heru juga menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah juga masih belum memutuskan untuk menetapkan harga kenaikan cukai serta harga jual eceran. Hal ini sekaligus mematahkan berita yang beredar yang menyebutkan bahwa harga rokok per bungkus yang kini mencapai hingga Rp 50 ribu per bungkus.

Sementara itu, kenaikan harga rokok ini seyogyanya juga harus dilihat dari semua aspek perindustrian rokok seperti petani tembakau, pabrik rokok, distributor, penjual eceran sampai konsumen. Tentunya kebijakan ini juga akan menimbulkan dampak yang positif dan juga negatif. -------------------- Mengenai rokok dan juga kesehatan ini memang sudah lama menajadi sebuah polemik di masyarakat. Pro dan kontar mengenai kesehatan dan juga bahaya dari merokok hingga saat ini masih menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Kini muncul lagi topik baru mengenai harga rokok yang akan dinaikkan oleh pemerintah.

Seperti biasanya, ada pihak yang menyuarakan bahwa mereka setuju dengan kebijakan ini, ada juga pihak yang menyatakan bahwa mereka tidak setuju dengan kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah ini.

Untuk membuat para perokok aktif berhenti merokok, harga rokok yang dinaikkan bisa menjadi salah satu cara tersebut. hal ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dari perokok aktif tersebut, namun juga berkaitan dengan perokok pasif yang berada di sekitarnya. Artinya rokok ini bisa meningkatkan angka kematian dan juga pembengkakan biaya yang dikeluarkan negara untuk mengobati siapa pun yang terkena dampak dari merokok.

Tingginya angka dari orang yang sakt akibar rokok ini telah menandakan bahwa rokok meningkatkan angka penyakit tak menular (PTM). Oleh karena itu Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, yang menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakusltas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia telah membuat suatu studi tentang apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dan juga pemerintah untuk mengatasi angka yang terus melonjak tiap tahunnya.

Studi tersebut telah dilakukan pada Bulan Desember tahun 2015 lalu. Hasilnya telah menunjukkan bahwa kemungkinan perokoko akan berhenti mengkonsumsi rokok jika harganya akan dinaikkan dua kali lipat. Besaran pengeluaran untuk rokok per bulan mencapai Rp 450 sampai Rp 600 ribu untuk satu sampai dua bungkus rokok per hari.

Di dalam studi yang dilakukan ini, para perokok aktif mengatakan bahwa mereka akan berhenti merokok apabila harga rokok di Indonesia dinaikkan menjadi Rp 50 ribu per bungkus. Namun mengenai harga rokok yang naik ini, menurutnya masih membutuhkan waktu satu sampai dua tahun hingga pemerintah dan juga politisi menyetujui gagasan ini.(Red)

About Ppwi Kota Depok

Kami Pewarta Pantau Terkini Mendukung Tolak Berita Hoaks dan menjunjung tinggi Nilai Jurnalistik "Biographical Info" dan semua Berita Tanggung Jawab Perwakilan Daerah sebagai Admin dari Website Pantau Terkini.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments