Select Menu

Slider

Daerah

Hukum

Legislatif

Derap

TNI Mandiri Manunggal Desa

Peristiwa

Videos

» » » Hindari Pertumpahan Darah, Pimpinan PKRI Memilih Mundur Selangkah dari Gedung PKRI
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

KOPI PANTER | Jakarta, Ratusan Polisi apel pagi di halaman Gedung PKRI, dan bersama puluhan oknum dari Sekretariat Negara menggusur paksa Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (LN PKRI) yang berkantor di gedung tersebut, Selasa, (30/8.2016). Para petugas yang diperalat oleh penguasa setingkat kepala biro di Sekretariat Negara Republik Indonesia yang dilahirkan oleh PKRI ini telah bersiaga sejak pukul 06.00 wib di gedung yang berlokasi di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Menteng, Jakarta Timur itu.
Seperti telah diberitakan di media ini sebelumnya bahwa saat ini Gedung PKRI menjadi obyek sengketa antara PKRI dan Sekretariat Negara. Perseteruan kedua lembaga itu bertambah ramai karena ditumpangi kepentingan Badan Keamanan Laut (Bakamla) yang bersih-keras ingin berkantor di Gedung PKRI yang merupakan gedung bersejarah utama yang terkait langsung dengan kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bakamla sejak dua bulan terakhir telah beberapa kali melakukan penyerbuan, penyerobotan, pengrusakan pintu-pintu ruangan di Gedung PKRI. Walaupun perilaku brutal oknum Bakamla dan Setneg, yang juga terkadang melibatkan ratusan anggota ormas forum bela negara pimpinan Edi Yusuf telah dilaporkan ke Polres Jakarta Pusat, POMAL, TNI-AL, dan Mabes Polri, namun penanganannya terkesan berjalan di tempat.
Pada penyerbuan di pagi hari Selasa, 30 Agustus 2016 lalu itu, kondisi Gedung PKRI masih sepi, karena sebagian besar pimpinan dan staf LN-PKRI masih belum tiba di kantor. Dengan demikian, para penyerang dengan mudah masuk gedung, mendobrak pintu-pintu ruangan, mengeluarkan peralatan kantor di dalam ruangan dan mengangkutnya entah kemana. Saat itu, satu-satunya pimpinan LN-PKRI yang ada di gedung itu adalah Ketua Dewan Pewarta PKRI, yakni Wilson Lalengke. Ia kemudian didaulat oleh para anggota Pengamanan Khusus dan staf LN-PKRI untuk memimpin team yang ada dan mengambil keputusan terbaik, terkait apa yang harus dilakukan terhadap para penyerobot.
Dihadapkan pada situasi yang sulit, ratusan aparat berseragam POLISI, ada beberapa Polwan, yang terlihat brutal memasuki ruangan dan membentak-bentak pimpinan agar segera keluar dari Gedung PKRI, Wilson Lalengke memilih mundur, mengikuti permintaan para perusuh. Dirinya keluar ruangan sambil memberikan keterangan kepada puluhan wartawan yang meliput kejadian itu. “Bapak-bapak diajak bicara tidak bersedia, maunya main paksa. Kalian sangat tidak beradab alias oknum aparat biadab!” ujar Wilson dengan nada marah dan kecewa.
Ia terus keluar ruangan yang berada di lantai 5 Gedung PKRI, kemudian sambil menuruni tangga menuju keluar gedung, Wilson terus memberikan keterangan kepada aparat yang menggiringnya keluar gedung. “Kita sudah beraudiensi dengan Menkopolhukam dan Menteri Pertahanan RI, Bapak Ryamizard Ryacudu. Dalam pertemuan-pertemuan itu disepakati agar Gedung PKRI ini status quo, Bakamla tidak boleh masuk, semua pihak akan dipanggil untuk bertemu, rapat, bermusyawarah mencari solusi terbaik,” imbuh Wilson yang sempat diliput oleh TV-One, Metro-TV, dan puluhan media lainnya.
Karena kerasnya tekanan para penyerobot, yang akhirnya menyebabkan seluruh Pamsus dan staf LN-PKRI terdesak keluar Gedung PKRI, Wilson Lalengke menyatakan meminta maaf atas kegagalannya itu kepada para leluhur bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Melalui WA-nya, Wilson menyebarkan pesan singkat, yang intinya adalah meminta maaf karena tidak mampu mempertahankan Gedung Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia dari aparat yang datang mengosongkan bangunan berlantai 6 itu. Pilihan untuk tidak terus bertahan dan memilih mundur dari Gedung PKRI didasari oleh pertimbangan utama, keselamatan semua yang ada saat itu di sana. Wilson memilih menghindari darah tertumpah akibat bentrok fisik dan memilih meninggalkan ruangan, terus keluar digiring terus oleh puluhan polisi hingga keluar gerbang Gedung PKRI.
“Semua sudah usai, maaf jika sy tidak mampu bertahan, 500-an aparat datang menyerang di Gedung PKRI, sebagai satu-satunya orang yg dipercayakan sebagai pimpinan oleh kawan-kawan di lokasi yg hanya 30 orang saja, sy memilih mengikuti kehendak penyerbu menghindari pertumpahan darah di Gedung PKRI. Sekali lagi, sy mohon maaf kepada leluhur bangsa, kepada bangsa ini. Makasih #WilsonLalengke”. Demikian pesan singkat Ketua Dewan Pewarta PKRI melalui WA kepada Redaksi KOPI. (Harto/Tim)

About Ppwi Kota Depok

KAMI Pewarta Pantau Terkini Menolak Berita Hoaks Tanpa data yang aKurat dan Opini yang tidak Membangun .
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments