Dua Kapal Pukat dari Empat Kapal yang ditangkap dan di Bakar Nelayan Ditengah Perairan.
PANTER | Tanjung Balai, Nelayan Tradisional Tradisional se – kabupaten Asahan dan tanjung Balai mengamuk 4 Pukat yang melanggar aturan dalam melakukan penangkapan ikan di wilayah pesisir Asahan dibakar (10.09) 2 kapal pukat dibakar di Tengah laut di perairan tanjung Berombang dan 2 lagi dibakar di salah satu gudang di sungai asahan, hal ini terjadi karena masyarakat merasa resah dan merasa di permainkan oleh pihak – pihak yang melakukan rajia terkait tuntutan nelayan untuk segera membenahi dan menangkap peralatan yang beroverasi melanggar undang – undang dan hokum. Aksi ini di akibatkan ketidak puasan para Nelayan tradisional terhadap element instansi yang malakukan rajia terkait pengaduan dan demontrasi oleh nelayan tradisional Asahan dan Tanjung Balai, akibat maraknya pukat beroperasi di daerah pesisir yang mengakibatkan menurunnya sumber penghasilan nelayan. 

“cammano ondak dibilang, dari mulai POLISI, TNI, Dinas kalautan sampe nang memang tugasnyo mangamankan laut ni pun turun manyotokan tak ado dapat orang tu pulak pukat beroverasi, nampak kali rajianyo tu rajia ecek-ecek, puak labu, angkat tolur, sekarang kami tunjukkan samo orang tu kok memang ado, macam nang dibodoh – bodohi yang rajia tu pulaknyo kami, udah kami miskin ditindas lagi ditambah dibodoh – bodohi, itu dapat kaminyo yang beroverasi pukat tu, jadi orang nang marajia tu memang bodoh, tak tau diundung gaji orang tu dari rakyat tapi mangamankan dan mensejahtrakan rakyat tak ado taunyo, sukak nang korasnyo pulak awak baru tau orang tu”.

Pungkas salah satu nelayan tradisional dengan nada amarah. “Kok nang batugas pulak, botul – botullah batugas, jangan macam – macam, soalnyo nasib kami dilaut sungguh mandarita jangan di tambahi lagi, kok tak bisa batugas kasi ka kami peralatan dan persenjataan biar kami yang merajia kok dapat dibunuh torus, daripada kami nang mati mandarita kelaparan, ditambah biaya anak sekolah dan makan susah kami mencarinyo orang tu pulak nang mambodohi kami, botul kato ayah omak kami jaman dahulu, aparat tu lamo – lamo kaparat” saat ditanya harapannya kedepan.  

Memang dalam beberapa minggu terakhir razia oleh Polres Asahan, TNI, BAKAMLA dan Dinas Prikanan dan kelautan tanjung balai dan Asahan dilakukan, Namun tidak ditemukan peralatan yang melanggar pada saat razia tersebut terjadi. Ditempat lain Ka POLRES Asahan AKBP Tatan Dirsan Atmaja SIK menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, menurut pengakuan Nelayan sebelum pembakaran terjadi pihak Nelayan terlebih dahulu menyuruh untuk setiap orang yang berada di kapal tersebut untuk masuk kedalam perahu nelayan.

Ahmad Sofwan Selaku pendiri Sarekat Nelayan Tradisional Asahan berkomentar “tindakan yang lakukan oleh pihak Nelayan Tradisional Tanjung Balai dan Asahan tersebut, saya nilai pantas dan wajar, karena selama ini saya melihat bahwa kinerja pengawasan daerah pesisir cendrung mandul, baik dari pihak manapun itu yang bersangkutan dengan dengan instansi pemerintahan, pada saat sekarang ini kemungkinan titik klimaks dari gerakan kerakyatan sudah naik pada vase perlawanan yang amat keras, kalau tidak segera dikawal, dan beberapa pihak segera memperbaiki kinerjanya, yang saya takutkan bukan lagi bot, maupun kapal pukat yang dibakar, tapi para pekerja dan pengusahanya juga bisa terbakar.

Karena saya tahu bener sifat nelayan, kalau sudah berada pada titik amarah yang tinggi, saya sebagai anak pesisir meminta pihak pemerintahan Provinsi Sumatera Utara dan Pusat Untuk Segera merespon terkait permasalahan Nelayan ini, Karena saya secara pribadi sudah muak menyampaikan keluhan terkait keadaan pesisir keinstansi yang bersangkutan dengan laut kabupaten Asahan” ucapnya dengan tenang.

“Semoga kejadian ini menjadi tamparan untuk seluruh elemet yang bersangkutan dengan kelautan, karena tidak satupun rakyat yang suka bila pengaduan tak dihirukan. Kejadian ini juga menjadi tamparan untuk beberapa instansi yang menyatakan tidak ditemukan alat tangkap yang melanggar Undang – Undang, saya menduga mereka Cuma melakukan rekayasa suasana dan pembelaan, Namun akhirnya terbongkar juga” pungkas Bung Irwan DPC LSM GAGAK RI ASAHAN. (Bagan Asahan Tanjung balai Asahan – Sumatera Utara /Kareem)
«
Next

Newer Post

»
Previous

Older Post


Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

» » » Dua Kapal Pukat dari Empat Kapal yang ditangkap dan di Bakar Nelayan Ditengah Perairan.

PANTER | Tanjung Balai, Nelayan Tradisional Tradisional se – kabupaten Asahan dan tanjung Balai mengamuk 4 Pukat yang melanggar aturan dalam melakukan penangkapan ikan di wilayah pesisir Asahan dibakar (10.09) 2 kapal pukat dibakar di Tengah laut di perairan tanjung Berombang dan 2 lagi dibakar di salah satu gudang di sungai asahan, hal ini terjadi karena masyarakat merasa resah dan merasa di permainkan oleh pihak – pihak yang melakukan rajia terkait tuntutan nelayan untuk segera membenahi dan menangkap peralatan yang beroverasi melanggar undang – undang dan hokum. Aksi ini di akibatkan ketidak puasan para Nelayan tradisional terhadap element instansi yang malakukan rajia terkait pengaduan dan demontrasi oleh nelayan tradisional Asahan dan Tanjung Balai, akibat maraknya pukat beroperasi di daerah pesisir yang mengakibatkan menurunnya sumber penghasilan nelayan. 

“cammano ondak dibilang, dari mulai POLISI, TNI, Dinas kalautan sampe nang memang tugasnyo mangamankan laut ni pun turun manyotokan tak ado dapat orang tu pulak pukat beroverasi, nampak kali rajianyo tu rajia ecek-ecek, puak labu, angkat tolur, sekarang kami tunjukkan samo orang tu kok memang ado, macam nang dibodoh – bodohi yang rajia tu pulaknyo kami, udah kami miskin ditindas lagi ditambah dibodoh – bodohi, itu dapat kaminyo yang beroverasi pukat tu, jadi orang nang marajia tu memang bodoh, tak tau diundung gaji orang tu dari rakyat tapi mangamankan dan mensejahtrakan rakyat tak ado taunyo, sukak nang korasnyo pulak awak baru tau orang tu”.

Pungkas salah satu nelayan tradisional dengan nada amarah. “Kok nang batugas pulak, botul – botullah batugas, jangan macam – macam, soalnyo nasib kami dilaut sungguh mandarita jangan di tambahi lagi, kok tak bisa batugas kasi ka kami peralatan dan persenjataan biar kami yang merajia kok dapat dibunuh torus, daripada kami nang mati mandarita kelaparan, ditambah biaya anak sekolah dan makan susah kami mencarinyo orang tu pulak nang mambodohi kami, botul kato ayah omak kami jaman dahulu, aparat tu lamo – lamo kaparat” saat ditanya harapannya kedepan.  

Memang dalam beberapa minggu terakhir razia oleh Polres Asahan, TNI, BAKAMLA dan Dinas Prikanan dan kelautan tanjung balai dan Asahan dilakukan, Namun tidak ditemukan peralatan yang melanggar pada saat razia tersebut terjadi. Ditempat lain Ka POLRES Asahan AKBP Tatan Dirsan Atmaja SIK menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, menurut pengakuan Nelayan sebelum pembakaran terjadi pihak Nelayan terlebih dahulu menyuruh untuk setiap orang yang berada di kapal tersebut untuk masuk kedalam perahu nelayan.

Ahmad Sofwan Selaku pendiri Sarekat Nelayan Tradisional Asahan berkomentar “tindakan yang lakukan oleh pihak Nelayan Tradisional Tanjung Balai dan Asahan tersebut, saya nilai pantas dan wajar, karena selama ini saya melihat bahwa kinerja pengawasan daerah pesisir cendrung mandul, baik dari pihak manapun itu yang bersangkutan dengan dengan instansi pemerintahan, pada saat sekarang ini kemungkinan titik klimaks dari gerakan kerakyatan sudah naik pada vase perlawanan yang amat keras, kalau tidak segera dikawal, dan beberapa pihak segera memperbaiki kinerjanya, yang saya takutkan bukan lagi bot, maupun kapal pukat yang dibakar, tapi para pekerja dan pengusahanya juga bisa terbakar.

Karena saya tahu bener sifat nelayan, kalau sudah berada pada titik amarah yang tinggi, saya sebagai anak pesisir meminta pihak pemerintahan Provinsi Sumatera Utara dan Pusat Untuk Segera merespon terkait permasalahan Nelayan ini, Karena saya secara pribadi sudah muak menyampaikan keluhan terkait keadaan pesisir keinstansi yang bersangkutan dengan laut kabupaten Asahan” ucapnya dengan tenang.

“Semoga kejadian ini menjadi tamparan untuk seluruh elemet yang bersangkutan dengan kelautan, karena tidak satupun rakyat yang suka bila pengaduan tak dihirukan. Kejadian ini juga menjadi tamparan untuk beberapa instansi yang menyatakan tidak ditemukan alat tangkap yang melanggar Undang – Undang, saya menduga mereka Cuma melakukan rekayasa suasana dan pembelaan, Namun akhirnya terbongkar juga” pungkas Bung Irwan DPC LSM GAGAK RI ASAHAN. (Bagan Asahan Tanjung balai Asahan – Sumatera Utara /Kareem)
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

About the Author Ppwi Kota Depok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Nasional

video

video

kesehatan

Kesehatan

Cat-5

Cat-6