Select Menu

Slider

Daerah

Hukum

Legislatif

Derap

TNI Mandiri Manunggal Desa

Peristiwa

Videos

» » » Akibat Sengketa Lahan Sari Rejo Kota Medan jadi Bentrok Warga Vs TNI AU, Delapan Warga Dilarikan Ke ICU
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

PANTER | Sumut,  Bentrok antara warga Sari Rejo dan TNI AU Lanud Suwondo pecah, Senin (15/8). Bentrok yang terjadi sejak pagi, membuat delapan warga Sari Rejo tertembak peluru karet. Tak hanya warga, dua wartawan yang meliput peristiwa itu jadi korban keberingasan aparat TNI AU.
Peristiwa bentrokan ini dipicu protes warga terhadap aktivitas personel TNI AU mematok-matok tanah milik warga pada malam hingga dini hari. Kemarin (15/8) pagi, ratusan warga tergabung dalam Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas), membakar ban dan memblokir Jalan SMA Negeri 2. Akibatnya, para pengendara terpaksa balik kanan, baik pengendara yang melintas dari Jalan SMA Negeri 2 maupun pengendara dari eks Bandara Polonia.
"Kami tidak suka dengan pihak TNI AU yang melakukan pematokan di tanah yang kami perjuangkan. Jadi, spontan kami melakukan aksi protes ini supaya tidak ada lagi pematokan," kata seorang warga Sari Rejo, Moses Sitohang kepada wartawan.
Menurut Moses, aksi blokir jalan ini tanpa direncanakan. Spontan, lantaran gerah melihat aksi pematokan yang dilakukan TNI AU. Dia menegaskan, putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan Register No : 229 K/Pdt/1991 tanggal 18 Mei 1995, sudah inkrah dan tak bisa dibantah.
"Putusan MA yang paling tinggi di Indonesia ini. Apapun itu, enggak bisa ditolak Keputusan MA. Di atas itu (Keputusan MA) ya keputusan Tuhan," kata Moses yang diamini warga Sari Rejo lainnya.

"Betul. Betul," teriak warga.
Atas Putusan MA yang sudah inkrah ini, Formas pun mengherankan sikap pemerintah. Soalnya, tanah seluas 260 hektar yang terletak di Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia itu, terdaftar sebagai aset tanah Dephankam RI Cq TNI AU Cq Pangkalan TNI AU Soewondo Inventaris Kekayaan Negara (IKN) dengan nomor register 50506001.
"Kenapa didaftarkan sebagai inventaris negara, kami sudah pertanyakan ke DPR RI. Tahun 97 itu didaftarkan sebagai inventaris negara. Oleh karena itu, cacat hukum register 50506001 itu," sesal Moses.
Dia pun mengakui, jika lahan Sari Rejo merupakan tanah garapan. Namun, itu sudah dikuasai 60 tahun. Anehnya, kata Moses, BPN masih enggan memberikan sertifikat.
Moses menduga, BPN tak memberikan sertifikat tersebut lantaran TNI AU merasa keberatan. "Persoalan ini sudah dibawa ke Panja (Panitia Kerja) dan Pansus (Panitia Khusus). Hadir juga Bapak Wali Kota, KSAU, Lanud, Gubernur. Namun, hingga kini belum ada realisasinya. Bahkan, Komisi II DPR RI pun sudah menggelar pertemuan untuk menindaklanjuti pembicaraan sengketa tanah di Sari Rejo ini," kesalnya lagi.

Dia menambahkan, tanah di Kelurahan Sari Rejo sudah milik masyarakat yang dihuni sekitar 36 ribu jiwa. "Sebenarnya BPN sudah hadir dari Pemprov dan Kementrian Agraria. Cuma mungkin ada tekanan (dari Lanud Soewondo). Kami sudah menang," kata dia seraya berharap, agar TNI AU tidak membangun Rusunawa di tanah masyarakat.
Tak berselang lama, terjadi aksi saling dorong antara warga dan TNI AU. Namun sejumlah warga sempat diseret dan dinjak anggota TNI AU. Hal ini terjadi saat anggota TNI AU berusaha memadamkan api dari ban bekas yang dibakar warga. Hal itu membuat warga tidak terima. Seorang warga yang nekad memprotes pemadaman itu, justru menjadi korban keberingasan TNI AU. Ia ditampar, dipukuli sampai tersungkur, dan diinjak.
Melihat ini, wargapun berteriak histeris. Mereka tidak terima ada warga yang dipukuli. ”Tolong jangan dipukuli Pak. Kejam kali kalian, main siksa,” teriak warga.
Bahkan, penganiayaan terhadap warga itu disaksikan langsung Komandan Lanud Soewondo, Kolonel Arifien. Namun ia tak banyak bertindak. ”Jangan dipukul, diamankan saja,” ujar Arifien dengan wajah panik.

Terpisah, Ketua Formas Riwayat Pakpahan menyatakan, TNI AU melakukan sikap salah karena menahan masyarakat. Menurut dia, TNI AU harus melepas masyarakat yang ditahan itu.
"Polisi harusnya yang menahan. Saya juga sudah SMS wali kota. Telepon juga ke Jakarta, orang Formas Sari Rejo, Pahala," tandasnya.

SWEEPING MASJID DAN SERANG WARTAWAN
Usai melerai massa, puluhan prajurit yang dipersenjatai pentungan melakukan aksi balas dendam. Mereka melakukan sweeping ke seluruh rumah di Kelurahan Sari Rejo tersebut. Bahkan, tempat ibadah pun tak luput dari sweeping puluhan prajurit TNI AU tersebut.
Berdasarkan pantauan, puluhan prajurit TNI AU menumpangi tiga truk turun di Jalan Antariksa/Jalan ,Teratai Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia. Mereka menghancurkan plank Formas Sari Rejo.
Saat itu, wartawan Sumut Pos dan wartawan lainnya Array Argus ketepatan memantau aksi mereka. Kemudian, puluhan prajurit TNI AU yang berseragam lengkap mempertanyakan keberadaan kami.
"Kalian darimana? Keperluan apa?," tanya seorang prajurit TNI AU berseragam loreng hijau kepada mereka.
"Kami tugas Pak," jawab Array sembari menunjukkan identitas pers-nya kepada tentara itu.
Mendapat jawaban itu, beberapa personel TNI AU mengiranya kalau mereka petugas. "Kau petugas? Petugas dari mana kau?" bentaknya.
Mendengar itu, prajurit TNI AU lainnya tersulut emosi. Tanpa sebab, mereka yang berjumlah puluhan itu langsung menarik Array. Satu persatu, tangan mereka memukuli Array secara membabi buta.
"Kami hanya tugas Pak," kata Array lagi membela diri.
Jawaban Array malah kembali memancing emosi lainnya. Puluhan prajurit malah mengambil kayu dan balok serta langsung menghajarnya. Beruntung, Kepala Tim personel TNI AU itu datang dan langsung melerai.
Begitupun, seorang prajurit TNI AU berkulit hitam, malah menunjang Array bak mengeluarkan jurus kungfu. Akibatnya, Array tersungkur ke kandang ayam milik warga. Warga pemilik rumah tempat prajurit TNI AU menganiaya Array pun teriak histeris.
"Sudah-sudah jangan di sini," teriak wanita itu.
Pun demikian, prajurit TNI AU malah masih ngotot memukuli Array. "Ku keluarkan isi perut kau ya. Kau kira hebat kali kau? Sudah makanan kami pukul-pukulan ini," kata prajurit TNI AU yang diseragamnya tertulis nama Romel itu.
Perlahan, wartawan Sumut Pos dan Array pun disuruh meninggalkan lokasi. Array berjalan sembari menahan sakit, sementara sepeda motor milik wartawan Sumut Pos rusak karena dihantami pentungan oleh prajurit TNI AU itu.
Tak terima dianiaya, Array pun mengadukan kejadian yang dialaminya kepada Kepala Penerangan dan Pepustakaan (Kapentak) Lanud Soewondo, Mayor Sus Jhoni Tarigan. Ditanya apa tindakannya terhadap prajurit TNI AU itu, Jhoni tak bisa memberikan jawaban jelas.
"Kita cek dulu lukanya. Masalah anggota, saya belum...," kata Jhoni.
Akhirnya, Array pun berobat ke RSU Mitra Sejati di Jalan AH Nasution. Sesampainya di rumah sakit tersebut, ternyata wartawan Inews TV pun menjadi korban pemukulan oknum TNI AU. Adalah Andri Syafrin (36), warga Medan Johor. Kejadian pemukulan itu bermula ketika Andri tengah melakukan tugas jurnalistiknya ketika melihat aksi sweeping dari para prajurit TNI AU tersebut.
"Aku dari Jalan Antariksa terus pertama mau sekadar lewat. Sambil lewat sambil ngerekam. Ada ibu-ibu nangis. Terus aku ambil gambarnya, aku malah dicekek dari belakang, terus ditarik dan dipijak-pijak. Lalu dipukuli lagi aku pakai pentungan," katanya.
Bahkan, Syafrin diancam prajurit TNI AU agar tidak memberikan bentrokan tersebut. Selain itu, alat liputan Syafrin seperti handycamp hingga dompet dan telepon selularnya pun dirampas.

"Awas kau beritakan ya," ucap Syafrin menirukan ancaman yang diterimanya.
Beruntung, Syafrin berhasil kabur dari aksi pemukulan tersebut. "Aku berhasil kabur karena aku ditarik, kemudian ditunjang hingga kecampak. Dan aku langsung lari hingga berhasil ditolong warga dan dilarikan ke RSU Mitra Sejati," ungkap Syafrin.
Akibat aksi penganiayaan ini, Syafrin mengalami luka dipelipis, tangan kiri dan kanan. "Dada kanan aku juga dan jantung aku rasanya sakit kali. Dagu aku juga luka dan kepala aku dipukuli berkali-kali," tandas Syafrin.

8 WARGA DITEMBAK

Tak hanya wartawan, sebanyak delapan warga Kelurahan Sari Rejo pun menjadi korban amuk dari puluhan prajurit TNI AU saat melakukan aksi sweeping ke rumah-rumah warga. Bahkan, tempat ibadah pun di-sweeping oleh prajurit TNI AU.
Hal itu diketahui, saat korban kekerasan TNI AU itu diboyong ke RS Mitra Sejati di Jalan AH Nasution, Titi Kuning. Kedelapan warga itu, Fadli (22) warga Jalan Teratai, Gang Ikhlas, Kelurahan Sari Rejo mengalami luka tembak tangan kanan; Wahyu (19) mengalami luka tembak tangan kiri; Ahmad (22) mengalami luka tembak leher kiri; Raja (26) warga Karang Sari Golf mengalami luka tembak di pinggang kanan; Iman Rizki (19) warga Jalan Mawar Lingkungan V Karang Sari mengalami luka lembam di sekujur tubuhnya; M Iqbal (31) warga Jalan Antariksa Gang Cempaka, Kelurahan Sari Rejo mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya; Gunawan (22) warga Jalan Antariksa mengalami luka tembas di betis kanan dan M Syukur Dalimunte (55) warga Jalan Antariksa yang mengalami luka lembam di punggungnya. Diduga, mereka mengalami luka tembak dari peluru karet.
Menurut salah seorang korban, Gunawan, saat puluhan TNI AU melakukan sweeping, dirinya tengah duduk di bengkel. Menurut dia, puluhan petugas itu berseragam dinas lengkap. "Menembak membabi buta. Aku hanya diam, mau lari tapi bentrok sudah terjadi. Jadi kaki ku kena tembak," kata Gunawan di RSU Mitra Sejati.
Sementara, Yogi tersandera oleh TNI AU. Sang ibu, Marnah, menangis histeris. Marnah menunggu di depan Kantor AURI menunggu anaknya yang tersandera. "Tega kali. Kasar kali mereka. Main angkat dari rumah dan dipukuli juga. Kalau tadi hanya dibawa saja nggak apa-apa," kata Marnah sembari menangis histeris.
Terpisah, Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Soewondo, Mayor Sus Jhoni Tarigan akhirnya mengakui, adanya aksi pemukulan terhadap dua wartawan media cetak dan media elektronik. Sebelumnya, Jhoni mengaku, hal itu tak dilakukan oleh TNI AU.
"Komandan sudah bilang, Kolonel Pnb Arifin Syahrir meminta maaf secara pribadi dan dinas, atas masalah itu," kata Jhoni, tadi malam.
Ditanya soal aksi sweeping, hal itu memang dilakukan oleh seluruh anggota. Namun, kata Jhoni, itu dilakukan untuk mencari warga yang melempar batu kepada anggota TNI AU bernama Wiwin. Akibat itu, menurut Jhoni, kepala Wiwin bocor.
"Perintah enggak ada. Sweeping itu dilakukan karena ada anggota kena lempar batu. Betul ini, enggak bohong. Yang jelas begitu, kepalanya berdarah. Di mana kenanya, saya enggak tau persis," jelas Jhoni.
Menurut Jhoni, soal warga yang disandera, sudah dilepas. Dia menambahkan, aksi pemukulan itu tak benar dilakukan. Soal aksi penembakan terhadap warga, Jhoni menepisnya.
"Setelah saya hubungi pejabat-pejabat di Batalyon, ada melakukan penembakan, hanya sekali. Itupun ke atas. Kami mencari orang yang melempari batu. Dan kami juga ada temukan ketapel dan panah beracun yang mungkin dipakai warga untuk melukai anggota. Kami tegaskan, kita tidak ada menembak warga," tandas Jhoni.
Menanggapi persoalan Formas Sari Rejo, Kepala Dinas Logistik Lanud Soewondo, Letkol Tek Hadis didampingi Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Soewondo, Mayor Sus Jhoni Tarigan menyesalkan sikap masyarakat yang memblokir jalan. Kata Hadis, hal tersebut mengganggu ketertiban dan keamanan. Selain itu, kata dia, kenyamanan pengendara pun terganggu.
"Kita berharap, sebenarnya tak terjadi seperti ini. Pihak kita sudah berulang kali untuk bertemu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kemarin kita ajak, kalau merasa punya hak, bawa dokumennya. Sama-sama kita cek ke BPN. Lahan Rusunawa itu, bagian kecil dari 260 hektar. 260 hektar itu, aset negara," kata Hadis.
Menurut dia, putusan MA itu memang benar memenangkan rakyat. Tapi, rakyat itu menang sebagai penggarap. "Keputusan MA adalah mereka menang sebagai penggarap. Pegangan TNI AU berdasarkan registrasi IKN 50506001. Kita sebagai aparat wajib mengamankan kekayaan negara," sebut Hadis.
Dia menambahkan, pihaknya tetap komitmen dan tegas membangun Rusunawa di samping Jalan Pipa 1, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia. Ukuran Rusunawanya, kata Hadis, 100x50 meter. "Tetap jadi, pembangunan di Bulan September. Kita tetap coba akan diselesaikan. Saya enggak pernah suka bertengkar mulut, apalagi di tengah jalan," tandas Hadis. (ted/adz)
Warga Korban Luka Tembak Peluru Karet
Fadli (22), mengalami luka tembak tangan kanan
Wahyu (19), mengalami luka tembak tangan kiri
Ahmad (22), mengalami luka tembak leher kiri
Raja (26), mengalami luka tembak di pinggang kanan
Iman Rizki (19), mengalami luka lembam di sekujur tubuhnya
M Iqbal (31), mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya
Gunawan (22), mengalami luka tembak di betis kanan
M Syukur Dalimunte (55), mengalami luka lebam di punggungnya.
Wartawan yang Mengalami Penganiayaan

About Panter Redaksi

KAMI Pewarta Pantau Terkini Menolak Berita Hoaks Tanpa data yang aKurat dan Opini yang tidak Membangun .
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments